
Di lereng Perkebunan Sorgum Cilegok, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, sebuah momen bersejarah berlangsung pada 23 Juni 2026. Untuk pertama kalinya, hasil panen tanaman sorgum dari lahan petani lokal dikirim langsung sebagai bahan bakar pendamping ke PLTU Pelabuhan Ratu menandai lahirnya satu model baru yaitu Co-Firing Biomassa dalam transisi energi Indonesia yang menempatkan petani bukan sekadar sebagai penonton, melainkan sebagai bagian dari rantai pasok energi hijau nasional.
Apa Itu Co-Firing Biomassa dan Mengapa Sorgum?
Co-firing biomassa merupakan sebuah metode pembakaran campuran di mana bahan bakar biomassa dicampurkan dengan batu bara sebagai bahan bakar utama di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Dalam konteks ini, sorgum dust atau serbuk halus dari batang dan daun tanaman sorgum diolah menjadi bahan bakar pendamping yang mereduksi porsi batu bara yang dibakar, sekaligus menurunkan emisi karbon dari pembangkit.
Mengapa sorgum? Tanaman ini menawarkan keistimewaan ganda yang sangat relevan untuk program transisi energi berbasis komunitas. Bulirnya bernilai sebagai bahan pangan yang mendukung ketahanan pangan lokal. Sementara batang dan daunnya yang dalam pertanian konvensional sering hanya menjadi limbah, kini bisa diolah menjadi sorgum dust untuk co-firing. Tidak ada bagian tanaman yang terbuang: ini adalah contoh nyata ekonomi sirkular yang lahir dari ladang.
Mengapa Program Ini Penting dan Strategis?
Keunggulan program co-firing biomassa tidak hanya terletak pada upayanya mengurangi emisi karbon, tetapi juga pada kemampuannya memanfaatkan infrastruktur pembangkit yang sudah ada. Pendekatan ini membuat transisi energi dapat dilakukan secara bertahap tanpa mengganggu keandalan pasokan listrik. Berikut beberapa alasan mengapa program ini menjadi langkah strategis dalam pengembangan energi yang lebih berkelanjutan
- Tidak perlu membangun pembangkit baru
PLTU yang sudah ada dimodifikasi untuk menerima campuran biomassa - Pengurangan emisi bertahap
Setiap persen biomassa menggantikan emisi dari porsi batu bara yang sama - Menjaga keandalan sistem
Pasokan listrik tidak terganggu saat porsi EBT terus ditingkatkan secara bertahap - Mengembangkan ekosistem lokal
Rantai pasok biomassa berbasis masyarakat tumbuh secara organik dan berkelanjutan
Keunggulan Sorgum sebagai Biomassa Dibanding Pilihan Lain
| Aspek | Sorgum | Biomassa Konvensional Lainnya |
| Nilai Ganda | Bulir untuk pangan + batang & daun untuk energi | Umumnya satu fungsi saja |
| Ketahanan Kekeringan | Sangat toleran untuk tumbuh di lahan marginal | Banyak yang butuh irigasi intensif |
| Kompetisi dengan Pangan | Rendah dan justru mendukung ketahanan pangan | Beberapa bersaing dengan lahan pangan |
| Siklus Panen | Cepat dengan 3–4 bulan per siklus | Kayu & sawit bisa 3–5 tahun sebelum produktif |
| Residue untuk Energi | Batang & daun yang biasanya terbuang menjadi sorgum dust bernilai | Tidak semua punya residue berkualitas baik untuk co-firing |
| Pemberdayaan Petani Kecil | Sangat sesuai, dengan skala lahan kecil pun ekonomis | Beberapa memerlukan skala besar agar ekonomis |
| Bukti Adaptasi Lokal | Terbukti adaptif di lahan Sukabumi, Ciemas sebagai validasi lapangan | Perlu studi kelayakan spesifik per lokasi |
Manfaat Berlapis dan Potensi Replikasi Nasional
Keberhasilan panen raya dan pengiriman perdana sorgum dust dari Ciemas ke PLTU Pelabuhan Ratu menunjukkan bahwa biomassa berbasis masyarakat dapat menjadi solusi yang memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Program ini tidak hanya membantu mengurangi penggunaan batu bara melalui cofiring, tetapi juga membuka sumber pendapatan baru bagi petani, memperkuat rantai pasok biomassa lokal, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat desa. Di saat yang sama, pemanfaatan sorgum sebagai bahan pangan dan sumber energi membuktikan bahwa ketahanan pangan dan ketahanan energi dapat berjalan beriringan.
Keberhasilan tersebut juga menjadi dasar bagi PLN Indonesia Power untuk memperluas model serupa ke unit pembangkit lain di berbagai wilayah Indonesia. Dimulai dari penanaman sorgum pada 2025, dilanjutkan panen raya dan pengiriman biomassa pada 2026, program ini diproyeksikan mendukung target Net Zero Emissions (NZE) 2060 melalui kolaborasi antara BUMN, pemerintah daerah, dan kelompok tani. Dengan dukungan pembeli yang jelas, komoditas bernilai ganda, serta sinergi antar pemangku kepentingan, model Pelabuhan Ratu berpotensi menjadi acuan pengembangan biomassa nasional di masa mendatang.
Ingin mengetahui lebih lanjut peluang dan inovasi terbaru di sektor kendaraan listrik, baterai, serta industri energi terintegrasi? Tertarik membuka jaringan bisnis dan kolaborasi strategis di industri ini? Pra-Registrasi sekarang dan hindari antrean saat pameran berlangsung dengan cara klik tautan berikut: Pra-registrasi di sini!
Bergabunglah dalam Electric & Power Indonesia 2026 dan temukan berbagai peluang untuk memperluas jaringan serta wawasan industri ketenagalistrikan dan energi terbarukan. Kunjungi website resmi kami di https://www.electricindonesia.com/ untuk informasi terkini seputar pameran, teknologi, dan layanan sektor terkait. Ikuti juga Instagram @electric.power.indonesia untuk update pameran dan insight menarik lainnya.
Referensi
- plnindonesiapower.co.id (23 Juni 2026) “Ceremonial Panen Raya Tanaman Sorgum dan Pengiriman Perdana Biomassa Sorgum Dust sebagai Co-Firing PLTU Pelabuhan Ratu: ‘Dari Ladang Menjadi Cahaya’”. Diakses pada tanggal 20 Juli 2026 dari https://www.plnindonesiapower.co.id
- plnindonesiapower.co.id (2025) “Laporan Keberlanjutan PLN Indonesia Power 2024: Roadmap Co-Firing Biomassa dan Target Net Zero Emissions”. Diakses pada tanggal 20 Juli 2026 dari https://www.plnindonesiapower.co.id/sustainability-report
- esdm.go.id (2025) “Peta Jalan Co-Firing Biomassa PLTU Indonesia: Strategi Transisi Energi Berbasis Komunitas”. Diakses pada tanggal 20 Juli 2026 dari https://www.esdm.go.id
- brin.go.id (2024) “Potensi Sorgum (Sorghum bicolor) sebagai Tanaman Energi Ganda di Indonesia: Kajian Agronomi dan Nilai Kalor Biomassa”. Diakses pada tanggal 20 Juli 2026 dari https://www.brin.go.id
- irena.org (2024) “Bioenergy for Power: Co-firing as a Transition Strategy for Coal Power Plants in Southeast Asia”. Diakses pada tanggal 20 Juli 2026 dari https://www.irena.org