2 - 5 SEP 2026

Jakarta International Expo

Kapasitas Energi Baru Terbarukan (EBT) Indonesia Tembus 15.360 MW di 2025

Sumber Gambar : Magnific.com

Di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan tekanan untuk menurunkan emisi, pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) menjadi semakin penting dalam sistem energi nasional. Indonesia mulai mendorong transisi ini melalui peningkatan kapasitas pembangkit berbasis energi bersih. Upaya ini tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan listrik, tetapi juga meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan dalam jangka panjang.

Secara umum, Energi Baru Terbarukan (EBT) mencakup berbagai sumber seperti tenaga air, panas bumi, surya, angin, dan bioenergi. Pemanfaatan sumber-sumber ini memungkinkan sistem energi menjadi lebih beragam dan tidak bergantung pada satu jenis energi saja. Dengan dukungan teknologi dan kebijakan yang tepat, EBT dapat menjadi fondasi utama dalam membangun sistem energi yang lebih stabil, efisien, dan ramah lingkungan.

Capaian EBT Indonesia 2025 

Pada 2025, Indonesia mencatat total kapasitas terpasang energi baru dan terbarukan mencapai 15.630 MW. Angka ini setara dengan 15,75% dari total kapasitas pembangkit nasional dan menunjukkan adanya peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menjadi salah satu capaian penting dalam upaya mempercepat transisi energi di Indonesia.

Kenaikan kapasitas tersebut didorong oleh penambahan di beberapa sektor utama seperti tenaga air, bioenergi, dan panas bumi. Meski demikian, kontribusi EBT dalam bauran energi nasional masih tergolong terbatas. Hal ini terjadi karena pembangkit berbasis fosil masih terus bertambah dan menjaga dominasi dalam sistem energi nasional.

Secara khusus di sektor ketenagalistrikan, capaian EBT justru menunjukkan hasil yang lebih positif. Bauran energi terbarukan mencapai 16,3% dan berhasil melampaui target yang telah ditetapkan pemerintah. Capaian ini menunjukkan bahwa arah pengembangan energi bersih sudah berada di jalur yang tepat, meskipun masih membutuhkan percepatan di berbagai aspek.

Rincian Kapasitas Berdasarkan Sumber Energi

Berdasarkan data Kementerian ESDM 2025, tenaga air masih menjadi tulang punggung utama energi terbarukan di tanah air. Berikut adalah distribusi kapasitas terpasang (dalam Megawatt):

Diagram ini menunjukkan bahwa tenaga air masih menjadi tulang punggung EBT di Indonesia. Sementara itu, energi surya dan angin mulai berkembang, namun kontribusinya masih relatif kecil dibanding sumber lainnya. 

Dominasi Tenaga Air dalam Bauran EBT

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) masih menjadi kontributor terbesar dalam bauran energi baru dan terbarukan di Indonesia pada 2025. Dengan kapasitas mencapai 7.587 MW, tenaga air menyumbang hampir setengah dari total kapasitas EBT nasional. Angka ini menunjukkan bahwa PLTA masih menjadi tulang punggung dalam pengembangan energi bersih di Indonesia.

Dominasi ini tidak lepas dari potensi sumber daya air yang besar serta teknologi yang sudah matang dan stabil. PLTA mampu menghasilkan listrik dalam skala besar dengan biaya operasional yang relatif rendah setelah pembangunan awal. Selain itu, karakter energinya yang stabil membuatnya menjadi andalan dibanding beberapa sumber EBT lain yang masih bergantung pada kondisi alam seperti matahari dan angin.

Namun, ketergantungan yang tinggi pada tenaga air juga menunjukkan bahwa diversifikasi energi baru terbarukan belum berjalan optimal. Pengembangan energi seperti surya dan angin masih perlu didorong agar bauran energi menjadi lebih seimbang. Langkah ini penting untuk menciptakan sistem energi yang lebih fleksibel dan tahan terhadap perubahan kondisi lingkungan.

Perbandingan: Target vs Realisasi 2025

Untuk memahami sejauh mana progres transisi energi berjalan, penting membandingkan antara target yang telah ditetapkan dengan realisasi di lapangan. Perbandingan ini memberikan gambaran apakah pengembangan EBT sudah sesuai rencana atau masih menghadapi kendala. Dari sini, arah kebijakan dan strategi ke depan dapat disusun dengan lebih tepat berdasarkan capaian yang ada. 

IndikatorCapaian RealitasTarget / Perbandingan
Total Kapasitas EBT15.630 MWTerbesar dalam 5 tahun terakhir
Bauran EBT Nasional15,75%Naik 1,1% dari tahun 2024
Bauran Ketenagalistrikan16,3%Di atas target RUKN (15,9%)
Realisasi Investasi EBTKEUSD 2,4 MiliarMenunjukkan ketangguhan sektor
PNBP Sektor ESDMRp138,37 Triliun108,56% dari target awal

Tantangan Transisi Energi

Perkembangan EBT di Indonesia menunjukkan tren positif, namun proses transisi masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu kendala utama adalah masih dominannya pembangkit berbasis fosil seperti batu bara dan gas. Penambahan kapasitas EBT sering kali diiringi dengan peningkatan pembangkit fosil, sehingga porsi energi bersih dalam bauran nasional sulit meningkat secara signifikan.

Selain itu, pengembangan EBT juga menghadapi tantangan dari sisi infrastruktur dan investasi. Beberapa sumber energi seperti surya dan angin membutuhkan dukungan jaringan listrik yang lebih fleksibel serta teknologi penyimpanan energi. Tanpa dukungan tersebut, pemanfaatannya belum bisa optimal.

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah regulasi dan kesiapan industri. Proses perizinan, kepastian investasi, serta kesiapan teknologi masih menjadi hambatan dalam percepatan proyek EBT. Untuk itu, diperlukan langkah yang lebih terintegrasi antara pemerintah, pelaku industri, dan investor agar transisi energi dapat berjalan lebih cepat dan efektif.

Peluang Pengembangan ke Depan

Di tengah berbagai tantangan, peluang pengembangan EBT di Indonesia masih sangat besar. Potensi energi surya, angin, dan panas bumi belum dimanfaatkan secara maksimal. Dengan kondisi geografis sebagai negara tropis, energi surya memiliki peluang paling besar untuk dikembangkan secara masif, terutama untuk mendukung kebutuhan listrik di wilayah terpencil.

Selain itu, perkembangan teknologi juga membuka peluang baru dalam mempercepat transisi energi. Inovasi seperti sistem penyimpanan energi, smart grid, dan digitalisasi jaringan listrik dapat membantu meningkatkan efisiensi dan stabilitas pasokan. Hal ini membuat integrasi berbagai sumber EBT menjadi lebih memungkinkan dalam skala besar.

Dari sisi industri, peningkatan investasi dan kebijakan yang mendukung menjadi faktor kunci. Jika didukung dengan regulasi yang jelas dan insentif yang tepat, Indonesia berpotensi tidak hanya menjadi pengguna energi bersih, tetapi juga pemain penting dalam rantai pasok industri energi terbarukan.

Penasaran dengan inovasi terbaru di sektor kelistrikan, energi baru terbarukan, dan pengolahan serta utilitas air? Ingin membuka peluang bisnis serta menjalin kolaborasi strategis di industri energi? Registrasi sekarang dan hindari antrean saat pameran berlangsung dengan cara klik tautan berikut: Pra-registrasi di sini!

Bergabunglah bersama kami di Indonesia Energy Week Surabaya 2026. Kunjungi website kami di https://www.iee-series.com/surabaya/ untuk informasi terkini seputar industri kelistrikan, energi baru terbarukan, dan pengolahan serta utilitas air. Ikuti juga Instagram @ieeseries.surabaya & @electric.power.indonesia untuk update pameran dan insight terbaru dari industri.


Referensi

  • esdm.go.id (9 Januari 2026) “Bauran EBT di Sektor Listrik Lampaui Target RUKN”. Diakses pada tanggal 07 Mei 2026
  • databoks.katadata.co.id (9 Januari 2026) “Kapasitas Pembangkit EBT di Indonesia 2025, Tenaga Air Terbesar”. Diakses pada tanggal 07 Mei 2026
  • renewableenergy.id (2024) “Data Energi Terbarukan Indonesia”. Diakses pada tanggal 07 Mei 2026 dari renewableenergy.id
  • kumparan.com (8 Januari 2026) “Kapasitas Terpasang Pembangkit Listrik RI Bertambah 7 GW pada 2025”. Diakses pada tanggal 07 Meil 2026 dari kumparan.com