2 - 5 SEP 2026

Jakarta International Expo

Megaproyek Baterai EV Rp96 Triliun: Ambisi Indonesia Jadi Pusat Kendaraan Listrik Dunia

Photo : Freepik.com

Transformasi industri otomotif nasional kini bergerak cepat menuju elektrifikasi. Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian terus memperkuat langkah percepatan pengembangan ekosistem kendaraan listrik, terutama pada sektor baterai sebagai komponen utama. Hal ini tercermin dari lonjakan penjualan Battery Electric Vehicle (BEV) yang hampir dua kali lipat, dari 16.926 unit menjadi 33.146 unit per Maret 2026. Di saat yang sama, Indonesia tidak hanya fokus pada sisi pasar, tetapi juga membangun fondasi industri baterai secara menyeluruh, mulai dari pertambangan nikel, proses pemurnian melalui smelter, teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL), hingga produksi material utama seperti prekursor, katoda, dan sel baterai.

Seiring dengan percepatan tersebut, pembahasan dalam artikel ini akan difokuskan pada dua aspek utama yang saling terhubung. Pertama, melihat bagaimana tren pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia berkembang pesat, mulai dari peningkatan populasi hingga pergeseran pangsa pasar. Kedua, mengulas megaproyek ekosistem baterai kendaraan listrik yang tengah dibangun sebagai fondasi industri dari hulu hingga hilir. Keduanya mencerminkan strategi Indonesia dalam mempercepat adopsi kendaraan listrik sekaligus memperkuat rantai pasok industrinya secara menyeluruh. Penasaran? Mari simak penjelasan di bawah ini!

Menelusuri Tren Kendaraan Listrik dan Ambisi Besar Indonesia

Perkembangan kendaraan listrik di Indonesia menunjukkan akselerasi yang semakin nyata, tidak hanya dari sisi adopsi pasar tetapi juga dari pertumbuhan industri pendukungnya. Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) kini menjadi salah satu indikator penting transformasi sektor otomotif nasional menuju arah yang lebih berkelanjutan. Peningkatan jumlah populasi kendaraan listrik, ekspansi pabrikan, hingga penguatan investasi menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia sedang bergerak menuju ekosistem mobilitas listrik yang matang. Berikut gambaran tren KBLBB di Indonesia saat ini:

  • Total populasi KBLBB di Indonesia telah mencapai ratusan ribu unit, dengan kontribusi Battery Electric Vehicle (BEV) sebesar 103.931 unit.
  • Tercatat sebanyak 91 pabrikan kendaraan listrik telah beroperasi di Indonesia, terdiri dari 68 produsen sepeda motor listrik, 14 produsen mobil listrik, dan 9 produsen bus listrik.
  • Nilai investasi di sektor kendaraan listrik terus meningkat, mencerminkan kepercayaan investor terhadap potensi jangka panjang industri ini di Indonesia.
  • Pangsa pasar BEV pada 2025 mencapai 12,93%, melampaui Hybrid Electric Vehicle (HEV) yang berada di angka 8,13%, menandakan pergeseran preferensi pasar menuju kendaraan listrik murni.

Melihat tren positif tersebut, pemerintah menetapkan target ambisius untuk memperkuat posisi Indonesia dalam industri kendaraan listrik global pada 2030. Target ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga dampak lingkungan serta penguatan industri dalam negeri. Berikut arah strategi dan target yang ingin dicapai:

  • Produksi 9 juta unit sepeda motor listrik roda dua dan tiga.
  • Produksi 600 ribu unit mobil dan bus listrik.
  • Pengurangan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) sebesar 21,65 juta barel.
  • Penurunan emisi karbon hingga 7,9 juta ton CO2.
  • Peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 30%.

Megaproyek Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik

Percepatan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia tidak hanya berhenti pada sisi pasar, tetapi juga diwujudkan melalui pembangunan proyek strategis berskala besar. Pada 29 Juni 2025, Presiden Prabowo Subianto meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek ekosistem baterai kendaraan listrik di Artha Industrial Hill (AIH) dan Karawang New Industry City (KNIC). Proyek ini mencakup rantai industri dari hulu hingga hilir dengan total investasi mencapai US$ 5,9 miliar (sekitar Rp 96,04 triliun). Agar lebih mudah dipahami, pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik ini dapat dilihat sebagai satu rantai besar yang saling terhubung, berikut gambarannya: 

Hulu (Penambangan dan Pemrosesan Mineral)

Tahap hulu menjadi titik awal rantai industri baterai melalui pengolahan nikel sebagai bahan baku utama. Proyek pertambangan oleh PT Sumberdaya Arindo (SDA) mencatat kapasitas produksi mencapai 13,8 juta wet metric ton (wmt) yang terdiri dari nikel saprolite dan limonite. Material ini kemudian diproses melalui fasilitas pemurnian, seperti smelter Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) milik PT Feni Haltim (FHT) dengan kapasitas 88 ribu ton refined nickel alloy per tahun, serta teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) oleh PT Nickel Cobalt Halmahera yang mampu menghasilkan 55 ribu ton Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).

Tengah (Produksi Komponen dan Sel Baterai)

Memasuki tahap tengah, proses berlanjut pada pengolahan material menjadi komponen inti baterai. Proyek material baterai di Halmahera Timur difokuskan pada produksi katoda, kobalt sulfat, dan prekursor terner dengan kapasitas mencapai 30 ribu ton lithium hydroxide. Selanjutnya, produksi sel baterai dilakukan di Artha Industrial Hill (AIH) dan Karawang New Industry City (KNIC). Proyek ini dikembangkan dalam dua fase dengan total kapasitas mencapai 15 GWh per tahun, menjadikannya salah satu fasilitas produksi sel baterai terbesar di kawasan.

Hilir (Pabrik Baterai dan Perakitan Kendaraan)

Pada tahap hilir, sel baterai yang telah diproduksi dirakit menjadi battery pack yang siap digunakan pada kendaraan listrik. Proses ini tidak hanya mencakup perakitan fisik, tetapi juga integrasi sistem manajemen baterai (Battery Management System/BMS), pengujian performa, serta penyesuaian dengan berbagai jenis kendaraan seperti motor, mobil, hingga bus listrik. Tahap ini memiliki nilai tambah tinggi karena menghasilkan produk akhir yang siap dipasarkan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai basis produksi kendaraan listrik yang kompetitif di tingkat global.

Recycling (Daur Ulang Baterai)

Sebagai bagian dari ekosistem yang berkelanjutan, tahap daur ulang menjadi elemen penting dalam mengelola siklus hidup baterai. Proyek daur ulang yang berlokasi di Halmahera Timur memiliki kapasitas pengolahan hingga 20 ribu ton logam per tahun, yang memungkinkan material berharga seperti nikel dan kobalt untuk digunakan kembali.

Menuju Ekosistem Kendaraan Listrik yang Terintegrasi

Perkembangan kendaraan listrik di Indonesia tidak hanya mencerminkan perubahan teknologi, tetapi juga arah baru dalam transformasi industri nasional. Dorongan investasi besar, pembangunan rantai industri baterai dari hulu hingga hilir, serta pertumbuhan pasar yang semakin kuat menjadi indikator bahwa ekosistem ini sedang dibangun secara serius dan terstruktur.

Ingin mengetahui lebih lanjut peluang dan inovasi terbaru di sektor kendaraan listrik, baterai, serta industri energi terintegrasi? Tertarik membuka jaringan bisnis dan kolaborasi strategis di industri ini? Pra-Registrasi sekarang dan hindari antrean saat pameran berlangsung dengan cara klik tautan berikut: Pra-registrasi di sini!

Bergabunglah bersama kami di Indonesia Energy Week Surabaya 2026. Kunjungi website resmi di https://www.iee-series.com/surabaya/ untuk mendapatkan informasi terkini seputar industri kendaraan listrik, energi, dan teknologi berkelanjutan. Ikuti juga Instagram @ieeseries.surabaya & @electric.power.indonesia untuk update pameran dan insight terbaru dari industri


Referensi